Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.
Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia? Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.
Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.
Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.
Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.
Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.
Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.
Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,“ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?“
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.
Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat baik.”
Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.
Semoga anda memberi ungkapan yang lebih agung untuk istri anda.
"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya- Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada sebuah pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir2 menerangi walaupun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS: An Nur: 35)
Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang yang terpilih dan dikehendakinya.
Dengan cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hatinya sehinga mampu memahami ayat-ayat dan nasehat-nasehat Allah.
Allah yang telah mengantar jiwa kita melayang menemuinya, dan yang menunjukkan jalan rohani kita untuk melihat secara dengan cahayanya kita membedakan petunjuk dari setan atau dari Allah SWT.
“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan memberi kepadamu furqan (pembeda)”.
(QS: Al Furqan: 29)
Yang dimaksud Furqan adalah cahaya yang dengannnya kita mampu membedakan yang hak dan yang bathil.
Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa seseorang harus mencapai keikhlasan untuk mendapatkan kebaikan dengan kebutuhannya.
kami tentu saja memaksa siapa pun untuk bekerja dengan segenap kekuatan untuk mencapai keikhlasan.
Kita perlu menanamkan keikhlasan di dalam diri kita. Jika tidak, apa yang kita capai selama ini dalam amal yang tersembunyi akan hilang sebagian dan tak akan kokoh; dan kita akan bertanggung jawab."
(PICTS)
Ada satu hal penting bagi para ‘orang-orang soleh’ di setiap
zaman: mereka jujur pada diri mereka sendiri.
Maksudnya, di setiap zaman, agama oleh para ‘pemuka agama’ di zamannya masing-masing pasti
somehow terdegradasi menjadi ritual semata. Menjadi kewajiban tanpa
makna, bahkan menjadi alat untuk mempertahankan strata sosial
‘keulamaan’. Itu terjadi di setiap zaman.
Orang-orang soleh, adalah orang-orang yang ‘jujur’ dengan diri mereka
sendiri. Mereka mendengarkan nuraninya: ketika ritual dirasa hanya
permukaan, mereka pun berusaha memenuhi kebutuhan jiwanya untuk berusaha
mencari pemahaman lebih dalam.
Mereka –haus– akan makna, dan jujur:
mereka tidak mengindoktrinasi diri mereka sendiri dengan hal-hal yang
nampak agamis tapi sebenarnya tidak memahaminya. Mereka jujur bahwa
mereka sebenarnya –tidak memahami– ritual mereka.
Ciri yang kedua, saya perhatikan, bahwa mereka tidak mudah ‘patah’ jika
dianggap berbeda secara sosial. Jika norma sosial ‘kesolehan’ saat itu
adalah A, tapi hati nuraninya merasa bukan, mereka tetap mendengarkan
nuraninya untuk mencari, ‘benarkah soleh itu A?’ dan tidak takut dengan
celaan orang lain.
Contoh yang terkenal, adalah Salman al Farisi : beliau
anak pendeta penyembah api, naik pangkat menjadi penjaga api, tetap
berguru pada ‘mursyid’ nasrani beberapa kali. Semua gurunya menjelang
wafat menyuruh Salman beralih pada guru yang lain. Di pendeta terakhir,
ia pun diberi tahu bahwa akan lahir nabi penutup dari tanah kurma, dan
ciri-cirinya. .. ia pun mencarinya. Dan ia menemukannya.
Al-Ghazali, tadinya ia adalah seorang rektor (dalam usia 20-an) karena
kecerdasan ilmu agamanya. Tapi ia jujur pada nuraninya: pengetahuannya
tidak menjawab kehausannya. Ia pun menjalani disiplin baru : tasawuf,
demi mendapatkan pemahaman esensi yang ‘diturunkan ke qalb’, dan bukan
lewat buku.
bukan memperhatikan seberapa banyak dalil yang
bisa kita hafalkan, seberapa banyak kita bisa menjawab persoalan ‘agama’
(dalam tanda kutip).
Allah memperhatikan qalb seseorang: apakah seseorang butuh untuk memahami atau tidak. Apakah ia butuh pemahaman atau tidak.
Jika orang hafal ribuan dalil tapi tidak merasa butuh untuk mengetahui
lebih dalam (karena sudah merasa pakar, misalnya)
atau malah menjadi sombong karena hafalan dalil-dalilnya, ya Allah pun akan membiarkannya saja.
Tapi jika seorang hamba memiliki hati yang bertaubat (taubat: kembali
pada Allah, ‘gandrung’/butuh pada Allah), maka Allah pasti akan
menuntunnya pada kebenaran, walaupun awalnya dia adalah seorang penyembah
api seperti salman al-farisi.
Bukan pula kesucian… karena tidak ada manusia yang bebas dari dosa kecuali Muhammad SAW. Orang-orang soleh pun bukannya tidak pernah berdosa.
Tapi mereka butuh Allah, dan mendengarkan kebutuhan nuraninya itu.
Kadang Allah ‘menjebloskan’ orang ke dalam dosa, supaya ia merasa tidak nyaman dengan hatinya yang kotor, dan ia menjadi butuh Allah.
Di sini dosa menjadi rahmat.
Tapi sekali lagi, jika ia tampak begitu alim dari luar, tapi hatinya tidak ‘menghadap Allah’, ya Allah pun tidak akan menghadapkan diri-Nya kepada orang itu,
walaupun dia seorang ulama di mata masyarakat.
bahwa sudah sunnatullah bahwa para ‘pencari yang jujur’ ini akan selalu jadi kaum minoritas.
Mereka selalu menjadi pengecualian di setiap zaman,
ketika mayoritas ‘agama’ pada zaman itu telah terdegradasi menjadi hanya ritual.
Kini, orang yang mencoba beragama dengan kedua aspeknya, lahir dan batin, ritual dan esensi, juga telah menjadi ‘agama yang asing’ dan aneh di mata masyarakat.
Semoga bermanfaat,
(PICTS)
1. Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah
Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata:
"Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata:
"Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". (QS. 3:35-36)
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:
"Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. 46:15)
Ayat-ayat di atas mengajarkan agar para Ibu muslimah menjadikan visi terbesar pendidikan anak untuk menjadikan mereka para hamba Allah yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. Kesuksesan utama orang tua dalam pendidikan anak adalah manakala mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah.
Sikap syukur ini menyiratkan kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesama manusia. Sebab syukur dalam makna yang luas berarti memanfaatkan segala kebaikan Allah swt untuk mentaatiNya. Artinya berbagai perbuatan kebajikan adalah perwujudan terima kasih kita kepada Allah. Dalam kerangka berpikir ini kita menemukan pentingnya pendidikan bagi anak, sebab pendidikan lah yang akan membuat seorang manusia memiliki karakter atau akhlak mulia.
Untuk itu seorang Ibu dituntut melengkapi wawasan dan pengetahuannya untuk mendidik anak-anak. Diantara pengetahuan mendasar bagi anak-anak adalah:
§ Dalam sisi keagamaan: tilawah Quran (serta pemahamannya pada hal-hal mendasar) dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ra. Pengetahuan dasar keagamaan ini akan menjadi fondasi bagi kekokohan aqidah dan akhlak.
§ Dalam sisi pengetahuan dan keterampilan umum: komunikasi-berbahasa (termasuk sastra), logika-matematika, pengetahuan sejarah dan musik-bernyanyi.
2. Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul". (QS. 28:7)
Dalam menghadapi berbagai tantangan jaman, seorang Ibu mesti senantiasa optimis, bahwa Allah akan menolong mereka mendidik anak-anaknya menjadi manusia berguna di masa depan. Sikap teguh Ibunda Nabi Musa sebagaimana digambarkan pada surat al-Qashash menjadi teladan utama dalam bersikap yakin akan bantuan Allah swt ini.
Ibu Musa ditakdirkan melahirkan anaknya dalam kondisi amat berat, yaitu ketika Firaun, penguasa yang amat zhalim saat itu, mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, karena alasan ketakutan akan runtuhnya kerajaannya. Akan Allah swt memerikan keteguhan kepada Ibu Musa dan dengan dibantu oleh kakak perempuan Musa, Ibu Musa berhasil melalui masa-masa sulit tersebut untuk melindungi dan memelihara Musa.
Kisah di atas menjadi pelajaran berharga bagi para ibu muslimah. Saat ini tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak-anak amat besar. Kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak, mulai dari seleksi pendidikan yang berkualitas, tantangan finansial, tantangan lingkungan hingga tantangan pada diri kita sendiri. Untuk tantangan lingkungan, kita menyaksikan banyaknya “polusi” berita dan informasi tentang kekerasan atau tindakan a-susila baik dalam bentuk tulisan ataupun tayangan-tayangan audio visual.
Dalam kondisi ini peran para Ibu amatlah besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh pada fitrah kesuciannya. Modal paling besar bagi para Ibu adalah kedekatan dengan Allah swt, memahami pengarahan (taujih) dan pengajaran dari Allah swt melalui al-Quran dan sunnah NabiNya. Untuk itu para Ibu hendaknya senantiasa mengadakan pengkajian yang mendalam terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui." (QS. 33:34)
3. Penuh Suka Cita dalam Mendidik
"Dan berkatalah istri Fir’aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari". (QS. 28:9)
Sikap kasih sayang kepada anak-anak adalah fitrah yang Allah berikan kepada para Ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Selama fitrah ini terjaga baik, seorang Ibu akan menjadikan perhatian pada anak sebagai perhatian terbesar dalam hidupnya. Kisah jatuh cintanya Asiyah istri Firaun kepada bayi Musa diabadikan al Quran untuk menggambarkan fitrah ini. Padahal Musa bukanlah anak kandungnya sendiri. Hendaknya sikap kasih sayang ini terus menyertai proses pendidikan anak.
Satu tantangan yang dihadapi para Ibu masa kini adalah tarikan untuk berkarir dan mencari penghasilan yang besar. Tarikan ini terjadi karena struktur sosial-ekonomi-masyarakat yang “memaksa” sebagian ibu-ibu untuk bekerja mencari nafkah. Padahal di dalam ajaran Islam, kewajiban mencari nafkah ini ada pada pundak para bapak. Motivasi lain adalah karena adanya kelemahan pola hubungan suami-istri. Sebagian istri merasa khawatir dirinya direndahkan oleh suami apabila tidak memiliki penghasilan sendiri.
Tentu saja kondisi ini pun tidak seharusnya terjadi dalam keluarga muslim, sebab ajaran Islam telah memerintahkan para suami untuk bersikap kasih sayang dan adil dalam memimpin rumah tangga. Yang patut diwaspadai adalah ketika kaum perempuan justru sangat menikmati karirnya, sehingga meletakkan masalah pendidikan dan kasih sayang kepada anak pada prioritas ke sekian dibandingkan karirnya. Bahkan misalnya pada sebagian kalangan perempuan ada pandangan bahwa memiliki anak itu akan mengganggu karir mereka.
Sumber: http://www.kajian.blogspot.com/
Note: Semoga hamba bisa menjadi seorang ibu yang bisa menjaga amanah dari-Mu ya, Allah..Amin.
1. Membiasakan salam salam yang dimaksud disini, misalnya salam apabila hendak masuk rumah, keluar rumah, menerima atau menelpon, membiasakan anak untuk bersalaman dengan tamu orang tua (selama tidak berbeda jenis).
2. Membiasakan berdoa dalam setiap aktifitas misalnya doa sehabis sholat, doa mau & selesai makan, doa masuk & keluar rumah, doa masuk & keluar wc, doa mau belajar dan doa-doa lainnya
3. Membiasakan untuk membaca qur’an bersama bukan membaca secara koor, tapi 1 orang membaca, yang lainnya menyimak
4. Panggil memanggil dengan panggilan yang baik seperti rasulullah yang memanggil istrinya aisyah, dengan panggilan humairah (yang kemerah-merahan)
5. Membiasakan sholat berjamaah Untuk laki-laki, sangat dianjurkan untuk berjamaah di masjid. tentunya kita para bapak bisa mengajak anak laki-laki kita yang agak besar untuk sholat berjamaah di masjid. Apabila anak kita masih kecil, sebiaknya tidak usah dibawa, dikhawatirkan malah mengganggu jamaah yang lain. Sedangkan para ibu, anak perempuan kita sholat berjamaah dirumah.
6. berolah raga rutin bersama keluarga rutin mingguan, jangan rutin bulanan atau malah tahunan. Tidak perlu jauh-jauh, yang paling utama adalah kerutinan dari olahraga tersebut.
7. rihlah/tamasya bersama keluarga dengan tamasya, hubungan antara suami, istri, anak akan semakin dekat. tidak perlu yang jauh-jauh dan mahal-mahal. ke ragunan, hanya Rp 4000/orang dewasa. kalau ke Monas, malah gratis. Sedikit tadi beberapa tips praktis. tidak perlu banyak-banyak. yang penting adalah realisasinya Seperti kata Aa Gym : 3M! Mulai dari yang kecil, mulai dari sendiri, mulai sekarang juga! Karena biasanya, tahap yang paling sulit adalah realisasinya. klo untuk membuat rencana, bisa selesai dalam waktu 15 menit. realisasinya? ini nikh tantangan buat kita semua
8. bersikap lemah lembut (romantis) kepada suami/istri "Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya" (HR. Abu Sa’id)
*) Sumber:http://www.kajian.blogspot.com/
Waktu kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tersenyum.
Seluruh keluarga menyambut gembira. Tetangga berdatangan turut bersukacita. Kelahiran kita adalah berkah, anugerah yang terindah.
Kita tumbuh: batita, balita, remaja, dewasa. Bagaimana kita mengisi hari?
Yang pasti, jalanilah hidup kita dengan penuh manfaat. Sehingga pada waktu kita meninggal, kita tersenyum dan orang-orang di sekeliling kita menangis.
Anda tak pernah tahu, dengan siapa akan berjodoh. Bukan tak mungkin sang jodoh bersembunyi di masa lalu.
Pernahkah Anda menghitung-hitung, berapa banyak orang yang pernah Anda kenal sejak lahir ke dunia ini. Mulai dari lingkup keluarga, tetangga, teman sekolah –dari SD sampai perguruan tinggi, teman kursus, teman organisasi dan orang-orang selintas lalu yang Anda kenal di perjalanan. Pasti banyak sekali jumlahnya, baik laki-laki maupun perempuan.
Bersama mereka mungkin Anda pernah menjalin cerita. Baik cerita indah ataupun cerita sedih. Cerita indah meninggalkan senyum setiap kali mengenangnya. Cerita sedih menorehkan luka dalam, Anda ingin melupakan. Ada juga kisah indah sekaligus sedih. Anda tersenyum, kemudian menangis saat mengingatnya. Cerita apakah yang membaurkan suka dan duka bersama? Cerita tentang cintakah? Tentang seseorang yang memanah hati Anda hingga berdarah merah jambu? Tetang seseorang yang pernah membawa Anda ke langit biru? Ya, benar. Siapapun Anda, pasti menyimpan kenangan cinta.
Kini, saat usia menuju senja, Anda menginginkan kisah cinta datang berulang. Anda berharap ada seseorang yang menyemaikan hurup-hurup di halaman hati, menjalin kata dengan tinta makna, menyusun kalimat dalam akad setia, dan akhirnya membukukan dengan jilid sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sayangnya Anda belum menemukan orang yang tepat untuk menulis kisah cinta tersebut. Anda sudah berusaha: menyusuri sungai-membelah bukit, mengarungi laut-mendaki gunung. Waktu, tenaga, biaya bahkan air mata tumpah dalam usaha pencarian tersebut. Anda lelah tapi hasilnya tak kunjung terlihat juga. Anda pesimis dan membiarkan halaman-halaman hati penuh dengan kalimat putus asa.
Mengapa harus pesimis? Satu usaha mungkin belum Anda lakukan. Usaha tersebut adalah menegok masa lalu. Di sana ada orang-orang yang sempat menawarkan asmara. Di sana ada mereka yang pernah bersemayam di bilik dada Anda. Bukan tak mungkin, dialah jodoh Anda. Siapa saja, mereka?
1. Orang yang Pernah suka pada Anda
Dulu, mungkin ada seseorang yang suka pada Anda. Dia pernah melakukan hal-hal konyol, norak, bahkan gila demi meraih simpati Anda. Berbagai usaha mereka lakukan dengan tujuan; Anda menyisakan sedikit ruang untuk namanya. Sayang saat itu Anda sama sekali tak tertarik padanya.
Sekarang setelah lama berpisah, tak ada salahnya Anda meliriknya lagi. Siapa tahu, ia masih menyimpan rasa dan dalam kondisi belum keluarga. Anda bisa bertanya pada orang-orang terdekatnya untuk menjalin tahap penjajakan lebih lanjut. Sekian tahun berpisah, mungkin dia tidak senorak dulu. Mungkin dia sudah berubah menjadi sosok yang lebih baik.
2. Orang yang Pernah Anda Sukai
Anda pernah suka pada seseorang. Anda mengaguminya dan sempat berharap menjadi pasangannya. Sayangnya, saat itu situasi dan kondisi belum memungkinkan Anda untuk menjadi pasangannya. Sekarang saat situasi dan kondisi Anda siap menikah, cobalah untuk mencari kabarnya. Siapa tahu dia masih sendiri. Siapa tahu dia juga sebenarnya menyukai Anda.
Mintalah seseorang yang terpercaya untuk melaksanakan niat Anda tersebut. Sang kurir bisa menyampaikan niat Anda lewat sindiran atau cara-cara yang sopan. Siapa tahu, Yang Kuasa membuka hatinya, membuat dia bersedia menjadi pendamping hidup Anda.
3. Orang yang pernah Anda tolak
Kasus ini mirip dengan kasus pertama. Tapi orang ini lebih ekstrem lagi. Dia pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Anda, tapi dengan berat (atau ringan?) Anda menolaknya.
”Kalau saya terima, apa bukan menjilat ludah kembali namanya?“ Kenapa harus malu. Jika dia sudah berubah, lebih baik dari yang dulu, kenapa tidak menyegerakan niat untuk bersatu dengannya.
Kalau dulu Anda melihat dari satu sisi, sekarang cobalah melhat dari banyak sisi. Di sanalah akan tersingkap kelebihan-kelebihannya yang tersembunyi. Bila tidak, pinjamlah mata orang lain untuk melihatnya. Mudah-mudahan Anda bisa menilai lebih objektif.
Setelah Anda telusuri, banyak peluang jodoh yang masih tercecer bukan? Jadi kenapa susah-susah cari sana-sini. Jika tak ada peluang untuk berpasangan dengan orang-orang di masa lalu itu, barulah Anda mencari atau minta dicarikan calon dari lingkup yang jauh. Wallahu ’Alam
Sumber: Ustad Cinta
Cinta Manajemen : 08129619741, 02168482227
Ustadzcinta_manajemen@yahoo.com
Dari al-Hikam, bahwa kematian hati (qalbu) karena tiga hal : - 1. Mencintai dunia, - 2. Lupa dari mengingat Allah, - 3. Membiarkan dirinya bergelimang maksiat. Faktor yang menyebabkan hati hidup : - 1. Zuhud dari dunia - 2. Sibuk dizikrullah - 3. Bersahabat dengan Kekasih-kekasih Allah Sedangkan tanda-tanda kematian hati juga ada tiga : - Jika anda tidak merasa susah ketika kehilangan keselarasan taat kepada Allah. - Tidak menyesali dosa-dosanya. - Bersahabat dengan manusia-manusia yang lupa pada Allah yang hatinya sudah mati. (sumber: pak ustad)
Lukman Hakim memerintahkan anaknya mengambil seekor keledai. Sang anak memenuhinya dan membawanya ke hadapan sang ayah. Lukman menaiki keledai itu dan memerintahkan anaknya untuk menuntun keledai.
Keduanya berjalan melewati kerumunan orang banyak. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraya berkata, “Anak kecil itu berjalan kaki, sedangkan orang-tuanya nangkring di atas keledai, alangkah kejam dan kasarnya ia.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?” Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman turun menuntun keledai. Sang anak ganti menaiki keledai. Keduanya lalu berjalan melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba mereka mencemooh sang anak seraya berkata, “Anak muda itu menaiki keledai, sedangkan orang tuanya berjalan kaki, alangkah jelek dan kurang ajar sang anak.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?”
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman dan anaknya sama-sama menaiki keledai berboncengan. Keduanya melewati keramaian di tempat lain, tiba-tiba orang-orang mencerca keduanya seraya berkata, “Betapa kejam kedua orang itu, mereka menaiki seekor keledai, padahal mereka tidak sakit, dan tidak pula lemah.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?”
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Akhirnya, Lukman dan anaknya turun dari keledai. Keduanya berjalan kaki sambil menuntunnya melewati keramaian di tempat lain. Tiba-tiba orang-orang mengecam seraca berkata, “Subhanallah… seekor himar yang sehat dan kuat berjalan? sementara kedua orang itu berjalan menuntunnya, alangkah baiknya jika salah satu dari mereka menaikinya.” Lukman bertanya kepada anaknya, “Bagaimana tanggapan orang-orang wahai anakku?”
Sang anak menyampaikan tanggapan mereka.
Kemudian, Lukman menasihati anaknya: “Wahai anakku, bukankah aku telah berkata kepadamu, kerjakanlah pekerjaan yang membuat engkau menjadi saleh dan janganlah menghiraukan orang lain. Dengan peristiwa ini saya hanya ingin memberi pelajaran kepadamu.”
Pria idaman adalah pria yang…
Ketika belum menikah
Bertaqwa, bersih hati, menghindari perkara yang meragukan, senantiasa takut pada Allah baik dalam keadaan terlihat maupun tersembunyi
Memilih wanita karena agamanya, bukan lantaran kecantikan, harta atau kedudukan semata. Standar agama menghormati eksistensi wanita. Dia tak akan menjadikan wanita mainan semata
Memperhatikan kebersihan luar-dalam
Menjaga kebugaran tubuh, tidak membiarkan lemak dan kolesterol bersarang di tubuh
Memiliki kemampuan untuk mengerem amarahnya. Bijaksana dalam mengelola konflik, tidak main tangan
Bijaksana, mengobati aib tanpa melukai, selalu bermusyawarah dalam menyelesaikan masalah
Menghargai sifat malu seorang wanita
Bersikap lemah lembut dan tahu bagaimana berbicara pada wanita
Menghargai sifat cemburu yang ada dalam wanita
Merasa bersalah jika memang bersalah dan tidak ragu meminta maaf
Ketika sudah menikah
Memaknakan kejantanan dengan cara memimpin dengan benar, bukan kejantanan ala pasar, memaksakan kekuasaan mutlak dalam keluarga
Bersikap rasional, tidak membebani istri dengan pekerjaan berat di dalam dan di luar rumah
Menyukai kedisiplinan, membagi waktu keluarga dan pekerjaam
Tidak sering bepergian tanpa istri dan anaknya kecuali untuk kepentingan mendadak dan mendesak
Bertanggung jawab terhadap keluarganya
Punya sifat romantis yang lembut beradaptasi pada perasaan bukan hanya pada tubuh
Tidak menuntut istri berlebihan menyediakan makanan dan minuman
Selalu bersegera dalam memenuhi kewajiban istri dan anaknya
Tidak menjadikan korektor terhadap berbagai cela istrinya, baik yang besar maupun kecil
Tidak suka menyebut pemberiannya untuk istri, akan tetapi selalu mengajak istri bersyukur pada Allah
Berusaha meperbaharui hidup bersama istri, berekreasi melepas penat bersama
Tidak pernah berdusta pada istrinya, berusaha terbuka
Selalu percaya pada istrinya
Menjaga kehormatan dan kejantanannya, tidak memaki dan mengumpat apalagi menampar
Tidak menyebarkan rahasia suami istri pada teman-temannya
Bukan yang sombong atau merasa lebih tinggi dari istrinya
Meninfaqkan harta untuk istri dan anak, tidak berlebihan, tapi juga tidak terlalu hemat/pelit
Membantu wanita menghadapi hari akhirat.
Dimanakah kita bisa menemukan pria idaman ini?