Di belakangku ada KEKUATAN tak terbatas
Di depanku ada KEMUNGKINAN tak berakhir
Di sekelilingku ada KESEMPATAN tak terhitung
Jadi…mengapa aku harus takut???…..

Okay…
Pagi2 menjelang pembukaan di subud..sudah ada "pembersihan"
Secara selama ini blum punya SIM, padahal sdh berkelana.. berkeliaran ke sana ke mari dgn si PINKU..
Dan setiap kali di tilang selalu 86 dgn pak polisi…akhirnya pasrah juga…
"Pak polisi, tilang saya aja deh, slip biru nya pak, jgn lupa"
Emang harus bikin SIM, dan emang harus jalan di jalan yg benar …
Sampe wisma subud, rada telat, jam 10.30..
Akhirnya…pada saat masuk ke hall..pikiran yg tadi njlimet dan dag dig dug…badan yg td cape ngebut2 ke wisma subud supaya ga telat…bisa rileks juga.
Ketemu sm PP, bu Latifah yg gaul ‘n funky, bu Didi yang elegan dan bu Titi yang sederhana, dan semua nya ramah2 kok…bs menenangkan juga.
Semuanya berlalu begitu cepat, hingga akhirnya gw harus memejamkan mata…menanggalkan semua atribut keduniawi-an, pikiran2 mumet di sampingkan, badan cape di simpan dulu, dan nafsu2 di pinggirin dulu…
and then…everything going dark…quite and ..
I see light …
cahaya…sangat berkilauan dan menyilaukan
dan tiba2…entah knp badan ini terasa terhuyung-huyung…kaki mulai melangkah…dan ke sana-kemari..ter pontang panting…
akhirnya…kaki mulai melemah..dan badan mulai terjatuh…tergeletak…tak berdaya..
Pikiran masih bertanya-tanya…apa yg terjadi??
tp raga ga bs di ajak kompromi, terus saja bergerak, kesana…kemari … bahkan sampai terjatuhpun…ga bisa di kendalikan dgn otak!
dan ga ada rasa takut sedikitpun, takut sakit krn jatuh, takut kepelanting ke dinding saat raga di hempas kesana kemari pun, tidak ada sedikit pun…semuanya ikhlas…tenang dan plong!!
Tiba2 dari dada…menyeruah sebuah perasaan ngilu…pilu dan luar biasa duka..
Tiba2 meraung..menangis…dan berderai2 air mata…
dan otak masih saja berkata…"kok nangis?…kok nangis nya kenceng aja"…duh…tp tetap saja menangis…ga bs di hentikan…dan bibir pun mengelurkan suara…ALLAHU AKBAR!!
sedikit demi sedikit rasa pilu itu pergi…dan sekarang diam…diam…ga adagerakan apa pun…otak masih saja berkata "hayo…ngapain lagi nih abis nangis.." dan tiba2 dari punggung…kepala..seperti di angkat ke atas, tp ada yg menahan dari bawah…
tiba2…gw menarik nafas dalam-dalam…dan menghembuskan nya..benar2 berasa nafas!!
dan otak berkata: "syukurlah masih hidup
"..tiba2…tangan kanan bergerak…menelungkup…terbuka…terus aja seperti itu..
ga bs di hentikan..
rasanya dingin, menjalar ke kepala, punggung dan akhirnya kaki
kaki yg tadi nya ga berasa apa2..kini otak mulai merasakan ada kaki ..
setelah itu…semua nya tenang…enteng dan ga ada beban apa2…
ga lama, PP nya membangunkan…dan mata terbuka…bisa di kendalikan kembali dgn otak, bisa bangun…
yg tadinya badan mau bangun itu susah, bahkan seperti terhempas lagi ke bawah..dan kaki ga bs bergerak2, kini bisa di gerakan untuk bangun.
Setelah itu…alhamdulillah…PP memberi selamat…ALHAMDULILLAH…
Semoga bs menenangkan jiwa dan menuntun jiwa kembali menjadi "TUAN" dalam diri.
Dan semoga ALLAH terus memberikan tuntunan & petunjuk untuk kembali ke MAKTUB NYA.

Namun ketika Nuh as menyampaikan pesan-pesan Allah kepada kaumnya, jawaban pemipin-pemipin kaumnya malah demikian:
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya :
Demikian pula kehadiran nabi Ibrahim dengan Namrud, nabi Isa dengan rahib-rahib Yahudi, dsb, yang berlatarbelakang bukanlah pemuka agama dari kalangannya.
Belajar dari sejarah ini, hal yang sangat penting —menurut saya— adalah kesadaran bahwa sangat mungkin sekali apa yang kita pahami sekarang belum tentu benar. Dan mungkin saja kebenaran itu ada di luar sana, dari orang-orang yang mungkin tidak bergelar profesor, doktor atau tidak bergelar sarjana dalam bidang agama.
Nah semangat untuk belajar, tidak melihat siapa yang mengatakan, tapi lihat apa yang dikatakannya, adalah hal yang harus kita miliki, agar kita dapat menemukan kebenaran sejati.
(PICTS)
Dengan demikian setiap harta kekayaan yang dijamin oleh Allah kepada manusia, hendaklah berfungsi benar sebagai barang jaminan yang diberlakukan sebagai ibadah untuk kepentingan yang berfaedah bagi si pemilik dan bermanfaat pula bagi sesama hamba Allah.
Sebab harta yang menjadi jaminan itu akan ditarik kembali oleh Allah apabila harta itu tidak memberikan manfaat bagi agama, sesama hamba, dalam hubungannya dengan keagungan nama Allah Ta’ala.
Jaminan itu, berarti Allah Swt adalah pemilik yang syah dari semua harta yang ada di tangan manusia. Allah Ta’ala akan ridho apabila rezeki Allah itu akan menghidupkan syariat, kesejahtraan para hamba Allah, dan tentu Allah akan murka apabila rezeki itu jatuh ke tempat maksiat.
Selain itu pengertian yang dapat diambil dari perkataan sungguh sungguh di atas, adalah menunjukan kemampuan yang cukup untuk mendapatkan rezeki yang telah ditebarkan Allah Ta’ala di muka bumi ini. Kesungguhan mendapat rezeki Allah itu menjadi suatu keharusan, bahkan bisa menjadi wajib apabila rezeki itu akan berguna bagi ibadah seorang hamba.
Mencari rezeki Allah itu bagi manusia telah menjadi sunnatullah. Jaminan Allah atas rezeki manusia, sebagaimana Allah telah menjamin rezeki bagi seekor anak hewan yang baru lahir dan membiarkannya hidup, karena Allah telah menyediakannya rezeki.
Demikian juga halnya binatang melata ketika lahir, mampu melangsungkan hidupnya karena jaminan Allah atas rezekinya masing masing. Sebagaimana Allah berfirman,
melainkan telah dijamin oleh Allah rezekinya.".
Dalam menuntut rezeki di dunia ini Allah tidak akan memaksa manusia agar mendapatkan harta yang berlimpah limpah. Manusia diberi kesempatan memenuhi kebutuhan hidupnya menurut kemampuan mereka masing masing.
Yang diajarkan oleh Islam dalam masalah harta ialah agar manusia tidak bersikap berlebih lebihan. Karena sikap ini akan membawa ketamakan.
Sedangkan ketamakan akan menjurus kepada kerakusan dan aniaya. Sikap rakus dan aniaya itu akan membutakan mata hati manusia.
Orang mukmin ketika mencari rezeki dengan sungguh sungguh selalu memperhatikan pula cara ber-muamalah, sikap hati hati, serta mampu membedakan antara harta yang halal dan harta yang haram.
"Perintahlah keluargamu mendirikan sholat, dan berlaku tabahlah menghadapi hidup. Tak perlu kamu bertanya soal rezeki."
Seperti sudah dijelaskan di atas, bahwa kedudukan seorang hamba dalam kaitannya dengan rezeki yang diterimanya dari Allah, sangat erat dengan anugerah yang harus dijaganya. Rezeki sebagai pemberian Allah, haram untuk disia siakan, dan wajib untuk dimanfaatkan bagi agama Allah dan sesama hamba-nya.
Rezeki banyak kaitannya dengan persiapan manusia untuk berjumpa dengan Allah. Rezeki selain menjadi bekal hidup dunia, termasuk pula untuk bekal hidup di Akhirat. Apabila harta yang telah di-rezkikan kepada manusia dipergunakan untuk kepentingan agama dan amal soleh, seperti menginfakkan dan menzakatkannya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur an
Narasumber: "Mutumanikam dari kitab Al-Hikam".
1. Mengungkapkan Cinta :
Jangan takut mengatakan cinta, kadang kita merasa bahwa hal tersebut tidak penting dan gombal, kadang kita berdalih bahwa kata-kata cinta tidak penting untuk diucapkan secara verbal tapi cukup dibuktikan dengan perbuatan. Tetapi coba kita tengok bagaimana Rasulullah mengajarkan kepada para shahabatnya ketika ada seseorang yang mengatakan kepada Rasul
"Apakah kamu pernah mengatakan perasaanmu kepadanya ?" Tanya Rasul.
"Belum ya Rasul". Jawab shahabat.
"Sekarang, katakanlah padanya".
Jadi mengatakan cinta itu bukan hal yang tabu, tapi sunnah hukumnya. Dan mulai sekarang, katakanlah cinta pada istri tercinta.
"I love u, I love u, I love u " 
2. Efek Sentuhan
Berjabat tangan ketika bertemu, memeluk atau mencium, adalah kiat2 penghangat cinta, jangan sampai satu haripun anda tidak menyentuhnya. Apakah hanya sekedar mencubit, menjewer mesra, dan sebagainya. Menurut ahli psikologi, efek sentuhan dapat memberi kenyamanan, kesenangan dan ketentraman dan menciptakan rasa kedekatan antar individu.
3. Memberi Bantuan
Memberi bantuan kepadanya diminta atau tidak, ketika ia sibuk didapur, kita yang memandikan anak. Ketika ia sedang menyuapi anak, kita ngelap meja. Kamu bunga yang jadi tangkainya.. suit suiit�� kamu tarzan.. aku yang jadi ������
4. Siap Dengan Dukungan
Memberi dukungan harus dilakukan, terutama jika istri kita mengalami tekanan psikologis. Tetapi memberi dukungan juga harus proporsional, jangan sampai berlebihan. Ini yang perlu diperhatikan. Dukungan moril sangat dibutuhkan disaat2 tertentu. Misalnya istri sakit, jangan malah di takut2in "Mi’ tetangga diseberang sana sakitnya juga sama kayak umi��. Sekarang dia udah pulang ke Rahmatulloh lho.."
5. Jangan Pelit Dengan Pujian
Kalau ada suami yang pelit pujian, bisa dipastikan ia juga pelit dengan hartanya, kalau pujian yang gratis aja pelit, gimana dengan harta yang dicari dengan susah payah ? suami yang pemurah adalah suami yang senang memuji. Memuji yang baik tidak dilakukan didepan khalayak ramai, tetapi disaat berdua, misalnya memuji kecantikannya, enak masakannya, dll.
6. Munculkan segala Kebaikan
"Jika cinta sudah melekat, tempe goreng terasa coklat" begitu pepatah mengatakan. Tanda cinta adalah kita senantiasa mengingat kebaikan-kebaikannya, jika ada permasalah yang membuat renggang hubungan. Segera ingat kebaikan yang pernah ia lakukan kepada kita.
7. Sisihkan waktu Untuk berdua
Kadang kesibukan membuat suami istri jarang punya waktu untuk mereka berdua, maka perlu disiasati supaya punya waktu untuk berbicara dari hati kehati, tanpa ada yang mengganggu. Just me and u �� cieee.
8. Membuat panggilan khusus
Panggil namanya dengan nama nama yang ia senangi misalnya "Mawar", "Darling", "Yayang", "My Love" jangan sebut nama panggilan yang ia tidak senangi "Ndut,.. sini ndut" (karena istrinya gendut) atau "Tuyul�� sini yul" (karena namanya Yuli).
9. mendengarkan
menjadi pendengar yang baik perlu kiat tersendiri, kadang kala ada rasa emosi, saat pulang kerja,lelah dan suntuk.. istri menyambut dengan cerita2 horor dan teror. Yah sabar sedikit, usahakan tersenyum. Dengarkan sampai ia selesai bicara. Setelah ia selesai baru bilang "umi tadi certain apa sih ?" (gubraks)
10. Lazimkan Tiga kata ajaib :
- Tolong : jika meminta bantuan
- Terima kasih : jika selesai dibantu
- Maaf : jika membuat kesalahan
Inspired By: Dudung Net
Bila malam sudah beranjak mendapati subuh, bangunlah sejenak. Lihatlah istri anda yang sedang terbaring letih menemani bayi anda. Tataplah wajahnya yang masih dipenuhi oleh gurat-gurat kepenatan karena seharian ini badannya tak menemukan kesempatan untuk istirah barang sekejap. Kalau saja tak ada air wudhu yang membasahi wajah itu setiap hari, barangkali sisa-sisa kecantikannya sudah tak ada lagi.
Sesudahnya, bayangkanlah tentang esok hari. Disaat anda sudah bisa merasakan betapa segar udara pagi, tubuh letih istri anda barangkali belum benar-benar menemukan kesegarannya.
Sementara anak-anak sebentar lagi akan meminta perhatian bundanya, membisingkan telinganya dengan tangis serta membasahi pakaiannya dengan pipis tak habis-habis. Baru berganti pakaian, sudah dibasahi pipis lagi. Padahal tangan istri anda pula yang harus mencucinya.
Disaat seperti itu, apakah yang anda pikirkan tentang dia? Masihkan anda memimpikan tentang seorang yang akan senantiasa berbicara lembut kepada anak-anaknya seperti kisah dari negeri dongeng sementara disaat yang sama anda menuntut dia untuk menjadi istri yang penuh perhatian, santun dalam berbicara, lulus dalam memilih setiap kata serta tulus dalam menjalani tugasnya sebagai istri, termasuk dalam menjalani apa yang sesungguhnya bukan kewajiban istri tetapi dianggap sebagai kewajibannya.
Sekali lagi, masihkan anda sampai hati mendambakan tentang seorang perempuan yang sempurna, yang selalu berlaku halus dan lembut? Tentu saja saya tidak tengah mengajak anda membiarkan istri membentak anak-anak dengan mata membelalak. Tidak. Saya hanya ingin mengajak anda melihat bahwa tatkala tubuhnya amat letih, sementara suami tak pernah menyapa jiwanya, maka amat wajar kalau ia tak sabar.
Begitu pula manakala matanya yang mengantuk tak kunjung memperoleh kesempatan untuk tidur nyenyak sejenak, maka ketegangan emosinya akan menanjak. Disaat itulah jarinya yang lentik bisa tiba-tiba membuat anak menjerit karena cubitannya yang bikin sakit.
Apa artinya? Benar, seorang istri shalihah memang tak boleh bermanja-manja secara kekanak-kanakan, apalagi sampai cengeng. Tetapi istri shalihah tetaplah manusia yang membutuhkan penerimaan. Ia juga butuh diakui, meski tak pernah meminta kepada anda.
Sementara gejolak-gejolak jiwa memenuhi dada, butuh telinga yang mau mendengar. Kalau kegelisahan jiwanya tak pernah menemukan muaranya berupa kesediaan utuk mendengar, atau ia tak pernah anda akui keberadaannya, maka kangan pernah menyalahkan siapa-siapa kecuali dirimu sendiri jika ia tiba-tiba meledak.
Jangankan istri anda yang suaminya tidak terlalu istimewa, istri Nabi pun pernah mengalami situasi-situasi yang penuh ledakan, meski yang membuatnya meledak-ledak bukan karena Nabi SAW tak mau mendengarkan melainkan semata karena dibakar api kecemburuan. Ketika itu, Nabi SAW hanya diam mengjadapi ‘Aisyah yang sedang cemburu seraya memintanya untuk mengganti mangkok yang dipecahkan.
Ketika menginginkan ibu anak-anak anda selalu lembut dalam mengasuh, maka bukan hanya nasehat yang perlu anda berikan. Ada yang lain. Ada kehangatan yang perlu anda berikan agar hatinya tidak dingin,apalagi beku, dalam menghadapu anak-anak setiap hari. Ada penerimaan yang perlu kita tunjukkan agar anak-anak itu tetap menemukan bundanya sebagai tempat untuk memperoleh kedamaian, cinta dan kasih sayang.
Ada ketulusan yang harus anda usapkan kepada perasaan dan pikirannya, agar ia masih tetap mememilki energi untuk tersenyum kepada anak-anak anda, sepenat apapun ia.
Ada lagi yang lain : PENGAKUAN. Meski ia tak pernah menuntut, tetapi mestikah anda menunggu sampai mukanya berkerut-kerut.
Karenanya, anda kembali ke bagian awal tulisan ini. Ketika perjalanan waktu melewati tengah malam, pandanglah istri anda yang terbaring letih itu, lalu pikirkanlah sejenak, tak adakah yang bisa anda lakukan sekedar mengucapkan terima kasih atau menyatakan sayang bisa dengan kata yang berbunga-bunga, bisa tanpa kata. Dan sungguh, lihatlah betapa banyak cara untuk menyatakannya. Tubuh yang letih itu, alangkah bersemangatnya jika di saat bangun nanti ada secangkir minuman hangat yang diseduh dengan dua sendok teh gula dan satu cangkir cinta.
Sampaikan kepadanya ketika matanya telah terbuka,“ada secangkir minuman hangat untuk istriku. Perlukah aku hantarkan intuk itu?“
Sulit melakukan ini? Ada cara lain yang bisa anda lakukan. Mungkin sekedar membantunya meyiapkan sarapan pagi untuk anak-anak, mungkin juga dengan tindakan-tindakan lain, asal tak salah niat kita. Kalau anda terlibat dengan pekerjaan di dapur, memandikan anak, atau menyuapi si mungil sebelum mengantarkannya ke TK, itu bukan karena gender-friendly; tetapi semata karena mencari ridha Allah, sebab selain niat ikhlas karena Allah, tak ada artinya apa yang anda lakukan.
Anda tidak akan mendapati amal-amal anda saat berjumpa dengan Allah di yaumil-qiyamah. Alaakullihal, apa yang ingin anda lakukan, terserah anda. Yang jelas, ada pengakuan untukknya, baik lewat ucapan terima kasih atau tindakan yang menunjukkan bahwa dialah yang terkasih. Semoga dengan kerelaan anda untuk menyatakan terima kasih, tak ada airmata duka yang menetes baginya, tak adal lagi istri yang berlari menelungkupkan wajah di atas bantal karema merasa tak didengar. Dan semoga pula dengan perhatian yang anda berikan lepadanya, kelak istri anda akan berkata tentang anda sebagaimana Bunda ‘Aisyah RA berucap tentang suaminya, Rasulullah SAW,”Ah, semua perilakunya menakjubkan bagiku”.
Sesudah engkau puas memandangi istrimu yang terbaring letih, sesudah engkau perhatikan gurat-gurat penat di wajahnya, maka biarkanlah ia sejenak untuk meneruskan istirahatnya. Hembusan udara dingin yang mungkin bisa mengusik tidurnya, tahanlah dengan sehelai selimut untuknya.
Hamparkanlah ke tubuh istrimu dengan kasih sayang dan cinta yang tak lekang oleh perubahan. Semoga engkau termasuk laki-laki yang mulia, sebab tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia.
Sesudahnya, kembalilah ke munajat dan tafakkurmu. Marilah anda ingat kembali ketika Rasulullah SAW berpesan tentang istri. “wahai manusia, sensungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Ketahuilah.”kata Rasulullah SAW melanjutkan.” kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah, dan kalian halalkan kehormatan merreka dengan kitan Allah. Takutlah kepada Allah dalam mengurusi istri kalian. Aku wasiatklan atas kalian intuk selalu berbuat baik.”
Anda telah mengambil istri anda sebagai amanah dari Allah. Kelak anda harus melaporkan kepada Allah Ta’ala bagaimana anda menunaikan amanah dari-Nya. Apakah anda mengabaikannya sehingga guratan-guratan dengan cepat menggerogoti wajahnya, jauh awal dari usia yang sebenarnya? Ataukah, anda sempat tercatat selalu berbuat baik untuk istri.
Semoga anda memberi ungkapan yang lebih agung untuk istri anda.
"Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya- Nya adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada sebuah pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir2 menerangi walaupun tidak disentuh api.Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu."
(QS: An Nur: 35)
Allah memberikan perumpamaan cahaya-Nya seperti lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang yang terpilih dan dikehendakinya.
Dengan cahaya itu Allah membimbing dan menuntun hatinya sehinga mampu memahami ayat-ayat dan nasehat-nasehat Allah.
Allah yang telah mengantar jiwa kita melayang menemuinya, dan yang menunjukkan jalan rohani kita untuk melihat secara dengan cahayanya kita membedakan petunjuk dari setan atau dari Allah SWT.
“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya Dia
akan memberi kepadamu furqan (pembeda)”.
(QS: Al Furqan: 29)
Yang dimaksud Furqan adalah cahaya yang dengannnya kita mampu membedakan yang hak dan yang bathil.
Badiuzzaman Said Nursi menyatakan bahwa seseorang harus mencapai keikhlasan untuk mendapatkan kebaikan dengan kebutuhannya.
kami tentu saja memaksa siapa pun untuk bekerja dengan segenap kekuatan untuk mencapai keikhlasan.
Kita perlu menanamkan keikhlasan di dalam diri kita. Jika tidak, apa yang kita capai selama ini dalam amal yang tersembunyi akan hilang sebagian dan tak akan kokoh; dan kita akan bertanggung jawab."
(PICTS)
Ada satu hal penting bagi para ‘orang-orang soleh’ di setiap
zaman: mereka jujur pada diri mereka sendiri.
Maksudnya, di setiap zaman, agama oleh para ‘pemuka agama’ di zamannya masing-masing pasti
somehow terdegradasi menjadi ritual semata. Menjadi kewajiban tanpa
makna, bahkan menjadi alat untuk mempertahankan strata sosial
‘keulamaan’. Itu terjadi di setiap zaman.
Orang-orang soleh, adalah orang-orang yang ‘jujur’ dengan diri mereka
sendiri. Mereka mendengarkan nuraninya: ketika ritual dirasa hanya
permukaan, mereka pun berusaha memenuhi kebutuhan jiwanya untuk berusaha
mencari pemahaman lebih dalam.
Mereka –haus– akan makna, dan jujur:
mereka tidak mengindoktrinasi diri mereka sendiri dengan hal-hal yang
nampak agamis tapi sebenarnya tidak memahaminya. Mereka jujur bahwa
mereka sebenarnya –tidak memahami– ritual mereka.
Ciri yang kedua, saya perhatikan, bahwa mereka tidak mudah ‘patah’ jika
dianggap berbeda secara sosial. Jika norma sosial ‘kesolehan’ saat itu
adalah A, tapi hati nuraninya merasa bukan, mereka tetap mendengarkan
nuraninya untuk mencari, ‘benarkah soleh itu A?’ dan tidak takut dengan
celaan orang lain.
Contoh yang terkenal, adalah Salman al Farisi : beliau
anak pendeta penyembah api, naik pangkat menjadi penjaga api, tetap
berguru pada ‘mursyid’ nasrani beberapa kali. Semua gurunya menjelang
wafat menyuruh Salman beralih pada guru yang lain. Di pendeta terakhir,
ia pun diberi tahu bahwa akan lahir nabi penutup dari tanah kurma, dan
ciri-cirinya. .. ia pun mencarinya. Dan ia menemukannya.
Al-Ghazali, tadinya ia adalah seorang rektor (dalam usia 20-an) karena
kecerdasan ilmu agamanya. Tapi ia jujur pada nuraninya: pengetahuannya
tidak menjawab kehausannya. Ia pun menjalani disiplin baru : tasawuf,
demi mendapatkan pemahaman esensi yang ‘diturunkan ke qalb’, dan bukan
lewat buku.
bukan memperhatikan seberapa banyak dalil yang
bisa kita hafalkan, seberapa banyak kita bisa menjawab persoalan ‘agama’
(dalam tanda kutip).
Allah memperhatikan qalb seseorang: apakah seseorang butuh untuk memahami atau tidak. Apakah ia butuh pemahaman atau tidak.
Jika orang hafal ribuan dalil tapi tidak merasa butuh untuk mengetahui
lebih dalam (karena sudah merasa pakar, misalnya)
atau malah menjadi sombong karena hafalan dalil-dalilnya, ya Allah pun akan membiarkannya saja.
Tapi jika seorang hamba memiliki hati yang bertaubat (taubat: kembali
pada Allah, ‘gandrung’/butuh pada Allah), maka Allah pasti akan
menuntunnya pada kebenaran, walaupun awalnya dia adalah seorang penyembah
api seperti salman al-farisi.
Bukan pula kesucian… karena tidak ada manusia yang bebas dari dosa kecuali Muhammad SAW. Orang-orang soleh pun bukannya tidak pernah berdosa.
Tapi mereka butuh Allah, dan mendengarkan kebutuhan nuraninya itu.
Kadang Allah ‘menjebloskan’ orang ke dalam dosa, supaya ia merasa tidak nyaman dengan hatinya yang kotor, dan ia menjadi butuh Allah.
Di sini dosa menjadi rahmat.
Tapi sekali lagi, jika ia tampak begitu alim dari luar, tapi hatinya tidak ‘menghadap Allah’, ya Allah pun tidak akan menghadapkan diri-Nya kepada orang itu,
walaupun dia seorang ulama di mata masyarakat.
bahwa sudah sunnatullah bahwa para ‘pencari yang jujur’ ini akan selalu jadi kaum minoritas.
Mereka selalu menjadi pengecualian di setiap zaman,
ketika mayoritas ‘agama’ pada zaman itu telah terdegradasi menjadi hanya ritual.
Kini, orang yang mencoba beragama dengan kedua aspeknya, lahir dan batin, ritual dan esensi, juga telah menjadi ‘agama yang asing’ dan aneh di mata masyarakat.
Semoga bermanfaat,
(PICTS)
Gw bukan seperti yg mereka kira…
so complicated inside
butuh kedamaian…dan keikhlasan
butuh cahaya penerang sebagai petunjuk jalan
butuh peneduh sebagai pelindung hati dari terik nya matahari nafsu dan derasnya hujan masalah
butuh seseorang sebagai imam dalam kehidupan yang sementara ini
need someone who can lead me to the right path
i have ALLAH and … i’ll have everything…for sure
GOD…i desprate here…i need Your Light again…
i know u’ll never leave me walk alone…i know that You know that i can handle all this "cookies"
to make me to be a better person and to be a stronger person
i know that You know that i can through all this episode
and i know for sure u’ll never leave me alone…
u gave me so many clue and i’ll try to reach all and follow all the sign…
and i try to listen to what my heart say….I CAN DO THIS…coz’ i have ALLAH.
I know that You’ll give me all the best for me, but You give me the way that i never knew it could be so hard and so complicated to face…i know this is the WAY….MAKTUB.
the way that will lead me to the best of me…coz You are really..really..really……..really take care of me.
i love u ALLAH…and plis don’t ever let my heart loving someone or something over my love to You.
Tak ‘kan pernah habis, air mataku,
bila ku ingat tentang dirimu
Mungkin hanya kau yang tahu,
mengapa sampai, saat ini, ku masih sendiri
Adakah disana, kau rindu padaku,
meski kita, kini ada di du-nia berbeda
Bila masih mungkin~ waktu berputar,
‘kan ku tunggu, dirimu
Biarlah ku simpan,
sampai nanti aku,
‘kan ada di sana,
tenanglah dirimu,
dalam kedamaian
Ingatlah cintaku,
kau tak terlihat lagi,
namun cintamu, abadi
Biarlah cintaku,
kau tak terlihat lagi,
namun cintamu, abadi