Manusia Jujur

17th Apr 2007 Author: dejavurainbow

Ada satu hal penting bagi para ‘orang-orang soleh’ di setiap
zaman:
mereka jujur pada diri mereka sendiri.

Maksudnya, di setiap zaman, agama oleh para ‘pemuka agama’ di zamannya masing-masing pasti
somehow terdegradasi menjadi ritual semata. Menjadi kewajiban tanpa
makna, bahkan menjadi alat untuk mempertahankan strata sosial
‘keulamaan’. Itu terjadi di setiap zaman.

Orang-orang soleh, adalah orang-orang yang ‘jujur’ dengan diri mereka
sendiri. Mereka mendengarkan nuraninya: ketika ritual dirasa hanya
permukaan, mereka pun berusaha memenuhi kebutuhan jiwanya untuk berusaha
mencari pemahaman lebih dalam.

Mereka –haus– akan makna, dan jujur:
mereka tidak mengindoktrinasi diri mereka sendiri dengan hal-hal yang
nampak agamis tapi sebenarnya tidak memahaminya. Mereka jujur bahwa
mereka sebenarnya –tidak memahami– ritual mereka.

Ciri yang kedua, saya perhatikan, bahwa mereka tidak mudah ‘patah’ jika
dianggap berbeda secara sosial
. Jika norma sosial ‘kesolehan’ saat itu
adalah A, tapi hati nuraninya merasa bukan, mereka tetap mendengarkan
nuraninya untuk mencari, ‘benarkah soleh itu A?’ dan tidak takut dengan
celaan orang lain.

Contoh yang terkenal, adalah Salman al Farisi : beliau
anak pendeta penyembah api, naik pangkat menjadi penjaga api, tetap
berguru pada ‘mursyid’ nasrani beberapa kali. Semua gurunya menjelang
wafat menyuruh Salman beralih pada guru yang lain. Di pendeta terakhir,
ia pun diberi tahu bahwa akan lahir nabi penutup dari tanah kurma, dan
ciri-cirinya. .. ia pun mencarinya. Dan ia menemukannya.

Al-Ghazali, tadinya ia adalah seorang rektor (dalam usia 20-an) karena
kecerdasan ilmu agamanya. Tapi ia jujur pada nuraninya: pengetahuannya
tidak menjawab kehausannya. Ia pun menjalani disiplin baru : tasawuf,
demi mendapatkan pemahaman esensi yang ‘diturunkan ke qalb’, dan bukan
lewat buku.

bukan memperhatikan seberapa banyak dalil yang
bisa kita hafalkan, seberapa banyak kita bisa menjawab persoalan ‘agama’
(dalam tanda kutip).

Allah memperhatikan qalb seseorang: apakah seseorang butuh untuk memahami atau tidak. Apakah ia butuh pemahaman atau tidak.
Jika orang hafal ribuan dalil tapi tidak merasa butuh untuk mengetahui
lebih dalam (karena sudah merasa pakar, misalnya)
atau malah menjadi sombong karena hafalan dalil-dalilnya, ya Allah pun akan membiarkannya saja.

Tapi jika seorang hamba memiliki hati yang bertaubat (taubat: kembali
pada Allah, ‘gandrung’/butuh pada Allah), maka Allah pasti akan
menuntunnya pada kebenaran, walaupun awalnya dia adalah seorang penyembah
api seperti salman al-farisi.

Bukan pula kesucian… karena tidak ada manusia yang bebas dari dosa kecuali Muhammad SAW. Orang-orang soleh pun bukannya tidak pernah berdosa.
Tapi mereka butuh Allah, dan mendengarkan kebutuhan nuraninya itu.
Kadang Allah ‘menjebloskan’ orang ke dalam dosa, supaya ia merasa tidak nyaman dengan hatinya yang kotor, dan ia menjadi butuh Allah.
Di sini dosa menjadi rahmat.

Tapi sekali lagi, jika ia tampak begitu alim dari luar, tapi hatinya tidak ‘menghadap Allah’, ya Allah pun tidak akan menghadapkan diri-Nya kepada orang itu,
walaupun dia seorang ulama di mata masyarakat.

bahwa sudah sunnatullah bahwa para ‘pencari yang jujur’ ini akan selalu jadi kaum minoritas.
Mereka selalu menjadi pengecualian di setiap zaman,
ketika mayoritas ‘agama’ pada zaman itu telah terdegradasi menjadi hanya ritual.

 

Tertulis:
"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan
menyesatkanmu dari jalan Allah."

(Q. S. 6 : 116).

"Agama datang sebagai hal yang asing, dan akan kembali menjadi hal yang asing,"
sabda Rasulullah. Itu berlaku di setiap zaman, hingga akhir zaman.
Agama tadinya utuh, mencakup lahir dan batin, ritual dan esensi. Itu awalnya menjadi hal yang asing.

Kini, orang yang mencoba beragama dengan kedua aspeknya, lahir dan batin, ritual dan esensi, juga telah menjadi ‘agama yang asing’ dan aneh di mata masyarakat.

Semoga bermanfaat,

(PICTS)

 



The URI to TrackBack this entry is:
http://dejavurainbow.blogsome.com/2007/04/17/manusia-jujur/trackback/



RSS feed for responses to this post. Live Bookmark for Comments

Responses Responses to “Manusia Jujur” »

No responses yet.

Leave a Reply


Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong> , 'Smart' Smileys.