1. Memiliki Visi Pendidikan untuk Mengabdi kepada Allah
Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata:
"Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata:
"Ya Rabbku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk". (QS. 3:35-36)
Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a:
"Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. 46:15)
Ayat-ayat di atas mengajarkan agar para Ibu muslimah menjadikan visi terbesar pendidikan anak untuk menjadikan mereka para hamba Allah yang senantiasa berkhidmat kepada Allah swt. Kesuksesan utama orang tua dalam pendidikan anak adalah manakala mereka menjadi orang-orang yang pandai bersyukur kepada Allah.
Sikap syukur ini menyiratkan kebaikan-kebaikan mereka terhadap sesama manusia. Sebab syukur dalam makna yang luas berarti memanfaatkan segala kebaikan Allah swt untuk mentaatiNya. Artinya berbagai perbuatan kebajikan adalah perwujudan terima kasih kita kepada Allah. Dalam kerangka berpikir ini kita menemukan pentingnya pendidikan bagi anak, sebab pendidikan lah yang akan membuat seorang manusia memiliki karakter atau akhlak mulia.
Untuk itu seorang Ibu dituntut melengkapi wawasan dan pengetahuannya untuk mendidik anak-anak. Diantara pengetahuan mendasar bagi anak-anak adalah:
§ Dalam sisi keagamaan: tilawah Quran (serta pemahamannya pada hal-hal mendasar) dan sejarah kehidupan Nabi Muhammad saw, keluarga dan para sahabatnya ra. Pengetahuan dasar keagamaan ini akan menjadi fondasi bagi kekokohan aqidah dan akhlak.
§ Dalam sisi pengetahuan dan keterampilan umum: komunikasi-berbahasa (termasuk sastra), logika-matematika, pengetahuan sejarah dan musik-bernyanyi.
2. Memiliki Keyakinan Kuat terhadap Janji Allah
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa:
"Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan jangan (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul". (QS. 28:7)
Dalam menghadapi berbagai tantangan jaman, seorang Ibu mesti senantiasa optimis, bahwa Allah akan menolong mereka mendidik anak-anaknya menjadi manusia berguna di masa depan. Sikap teguh Ibunda Nabi Musa sebagaimana digambarkan pada surat al-Qashash menjadi teladan utama dalam bersikap yakin akan bantuan Allah swt ini.
Ibu Musa ditakdirkan melahirkan anaknya dalam kondisi amat berat, yaitu ketika Firaun, penguasa yang amat zhalim saat itu, mengeluarkan perintah untuk membunuh anak laki-laki yang lahir dari kalangan Bani Israil, karena alasan ketakutan akan runtuhnya kerajaannya. Akan Allah swt memerikan keteguhan kepada Ibu Musa dan dengan dibantu oleh kakak perempuan Musa, Ibu Musa berhasil melalui masa-masa sulit tersebut untuk melindungi dan memelihara Musa.
Kisah di atas menjadi pelajaran berharga bagi para ibu muslimah. Saat ini tantangan yang dihadapi dalam mendidik anak-anak amat besar. Kita dihadapkan pada berbagai tantangan dalam mendidik anak-anak, mulai dari seleksi pendidikan yang berkualitas, tantangan finansial, tantangan lingkungan hingga tantangan pada diri kita sendiri. Untuk tantangan lingkungan, kita menyaksikan banyaknya “polusi” berita dan informasi tentang kekerasan atau tindakan a-susila baik dalam bentuk tulisan ataupun tayangan-tayangan audio visual.
Dalam kondisi ini peran para Ibu amatlah besar untuk menjaga anak-anak agar tumbuh pada fitrah kesuciannya. Modal paling besar bagi para Ibu adalah kedekatan dengan Allah swt, memahami pengarahan (taujih) dan pengajaran dari Allah swt melalui al-Quran dan sunnah NabiNya. Untuk itu para Ibu hendaknya senantiasa mengadakan pengkajian yang mendalam terhadap dua sumber utama ajaran Islam ini
"Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui." (QS. 33:34)
3. Penuh Suka Cita dalam Mendidik
"Dan berkatalah istri Fir’aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfa’at kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedangkan mereka tiada menyadari". (QS. 28:9)
Sikap kasih sayang kepada anak-anak adalah fitrah yang Allah berikan kepada para Ibu untuk mendidik anak-anak mereka. Selama fitrah ini terjaga baik, seorang Ibu akan menjadikan perhatian pada anak sebagai perhatian terbesar dalam hidupnya. Kisah jatuh cintanya Asiyah istri Firaun kepada bayi Musa diabadikan al Quran untuk menggambarkan fitrah ini. Padahal Musa bukanlah anak kandungnya sendiri. Hendaknya sikap kasih sayang ini terus menyertai proses pendidikan anak.
Satu tantangan yang dihadapi para Ibu masa kini adalah tarikan untuk berkarir dan mencari penghasilan yang besar. Tarikan ini terjadi karena struktur sosial-ekonomi-masyarakat yang “memaksa” sebagian ibu-ibu untuk bekerja mencari nafkah. Padahal di dalam ajaran Islam, kewajiban mencari nafkah ini ada pada pundak para bapak. Motivasi lain adalah karena adanya kelemahan pola hubungan suami-istri. Sebagian istri merasa khawatir dirinya direndahkan oleh suami apabila tidak memiliki penghasilan sendiri.
Tentu saja kondisi ini pun tidak seharusnya terjadi dalam keluarga muslim, sebab ajaran Islam telah memerintahkan para suami untuk bersikap kasih sayang dan adil dalam memimpin rumah tangga. Yang patut diwaspadai adalah ketika kaum perempuan justru sangat menikmati karirnya, sehingga meletakkan masalah pendidikan dan kasih sayang kepada anak pada prioritas ke sekian dibandingkan karirnya. Bahkan misalnya pada sebagian kalangan perempuan ada pandangan bahwa memiliki anak itu akan mengganggu karir mereka.
Sumber: http://www.kajian.blogspot.com/
Note: Semoga hamba bisa menjadi seorang ibu yang bisa menjaga amanah dari-Mu ya, Allah..Amin.
1. Membiasakan salam salam yang dimaksud disini, misalnya salam apabila hendak masuk rumah, keluar rumah, menerima atau menelpon, membiasakan anak untuk bersalaman dengan tamu orang tua (selama tidak berbeda jenis).
2. Membiasakan berdoa dalam setiap aktifitas misalnya doa sehabis sholat, doa mau & selesai makan, doa masuk & keluar rumah, doa masuk & keluar wc, doa mau belajar dan doa-doa lainnya
3. Membiasakan untuk membaca qur’an bersama bukan membaca secara koor, tapi 1 orang membaca, yang lainnya menyimak
4. Panggil memanggil dengan panggilan yang baik seperti rasulullah yang memanggil istrinya aisyah, dengan panggilan humairah (yang kemerah-merahan)
5. Membiasakan sholat berjamaah Untuk laki-laki, sangat dianjurkan untuk berjamaah di masjid. tentunya kita para bapak bisa mengajak anak laki-laki kita yang agak besar untuk sholat berjamaah di masjid. Apabila anak kita masih kecil, sebiaknya tidak usah dibawa, dikhawatirkan malah mengganggu jamaah yang lain. Sedangkan para ibu, anak perempuan kita sholat berjamaah dirumah.
6. berolah raga rutin bersama keluarga rutin mingguan, jangan rutin bulanan atau malah tahunan. Tidak perlu jauh-jauh, yang paling utama adalah kerutinan dari olahraga tersebut.
7. rihlah/tamasya bersama keluarga dengan tamasya, hubungan antara suami, istri, anak akan semakin dekat. tidak perlu yang jauh-jauh dan mahal-mahal. ke ragunan, hanya Rp 4000/orang dewasa. kalau ke Monas, malah gratis. Sedikit tadi beberapa tips praktis. tidak perlu banyak-banyak. yang penting adalah realisasinya Seperti kata Aa Gym : 3M! Mulai dari yang kecil, mulai dari sendiri, mulai sekarang juga! Karena biasanya, tahap yang paling sulit adalah realisasinya. klo untuk membuat rencana, bisa selesai dalam waktu 15 menit. realisasinya? ini nikh tantangan buat kita semua
8. bersikap lemah lembut (romantis) kepada suami/istri "Sesungguhnya, apabila seorang suami memandang isterinya (dengan kasih & sayang) dan isterinya juga memandang suaminya (dengan kasih & sayang), maka Allah akan memandang keduanya dengan pandangan kasih & sayang. Dan apabila seorang suami memegangi jemari isterinya (dengan kasih & sayang) maka berjatuhanlah dosa-dosa dari segala jemari keduanya" (HR. Abu Sa’id)
*) Sumber:http://www.kajian.blogspot.com/
Waktu kita lahir, kita menangis dan orang-orang di sekeliling kita tersenyum.
Seluruh keluarga menyambut gembira. Tetangga berdatangan turut bersukacita. Kelahiran kita adalah berkah, anugerah yang terindah.
Kita tumbuh: batita, balita, remaja, dewasa. Bagaimana kita mengisi hari?
Yang pasti, jalanilah hidup kita dengan penuh manfaat. Sehingga pada waktu kita meninggal, kita tersenyum dan orang-orang di sekeliling kita menangis.
Anda tak pernah tahu, dengan siapa akan berjodoh. Bukan tak mungkin sang jodoh bersembunyi di masa lalu.
Pernahkah Anda menghitung-hitung, berapa banyak orang yang pernah Anda kenal sejak lahir ke dunia ini. Mulai dari lingkup keluarga, tetangga, teman sekolah –dari SD sampai perguruan tinggi, teman kursus, teman organisasi dan orang-orang selintas lalu yang Anda kenal di perjalanan. Pasti banyak sekali jumlahnya, baik laki-laki maupun perempuan.
Bersama mereka mungkin Anda pernah menjalin cerita. Baik cerita indah ataupun cerita sedih. Cerita indah meninggalkan senyum setiap kali mengenangnya. Cerita sedih menorehkan luka dalam, Anda ingin melupakan. Ada juga kisah indah sekaligus sedih. Anda tersenyum, kemudian menangis saat mengingatnya. Cerita apakah yang membaurkan suka dan duka bersama? Cerita tentang cintakah? Tentang seseorang yang memanah hati Anda hingga berdarah merah jambu? Tetang seseorang yang pernah membawa Anda ke langit biru? Ya, benar. Siapapun Anda, pasti menyimpan kenangan cinta.
Kini, saat usia menuju senja, Anda menginginkan kisah cinta datang berulang. Anda berharap ada seseorang yang menyemaikan hurup-hurup di halaman hati, menjalin kata dengan tinta makna, menyusun kalimat dalam akad setia, dan akhirnya membukukan dengan jilid sakinah, mawaddah, dan rahmah. Sayangnya Anda belum menemukan orang yang tepat untuk menulis kisah cinta tersebut. Anda sudah berusaha: menyusuri sungai-membelah bukit, mengarungi laut-mendaki gunung. Waktu, tenaga, biaya bahkan air mata tumpah dalam usaha pencarian tersebut. Anda lelah tapi hasilnya tak kunjung terlihat juga. Anda pesimis dan membiarkan halaman-halaman hati penuh dengan kalimat putus asa.
Mengapa harus pesimis? Satu usaha mungkin belum Anda lakukan. Usaha tersebut adalah menegok masa lalu. Di sana ada orang-orang yang sempat menawarkan asmara. Di sana ada mereka yang pernah bersemayam di bilik dada Anda. Bukan tak mungkin, dialah jodoh Anda. Siapa saja, mereka?
1. Orang yang Pernah suka pada Anda
Dulu, mungkin ada seseorang yang suka pada Anda. Dia pernah melakukan hal-hal konyol, norak, bahkan gila demi meraih simpati Anda. Berbagai usaha mereka lakukan dengan tujuan; Anda menyisakan sedikit ruang untuk namanya. Sayang saat itu Anda sama sekali tak tertarik padanya.
Sekarang setelah lama berpisah, tak ada salahnya Anda meliriknya lagi. Siapa tahu, ia masih menyimpan rasa dan dalam kondisi belum keluarga. Anda bisa bertanya pada orang-orang terdekatnya untuk menjalin tahap penjajakan lebih lanjut. Sekian tahun berpisah, mungkin dia tidak senorak dulu. Mungkin dia sudah berubah menjadi sosok yang lebih baik.
2. Orang yang Pernah Anda Sukai
Anda pernah suka pada seseorang. Anda mengaguminya dan sempat berharap menjadi pasangannya. Sayangnya, saat itu situasi dan kondisi belum memungkinkan Anda untuk menjadi pasangannya. Sekarang saat situasi dan kondisi Anda siap menikah, cobalah untuk mencari kabarnya. Siapa tahu dia masih sendiri. Siapa tahu dia juga sebenarnya menyukai Anda.
Mintalah seseorang yang terpercaya untuk melaksanakan niat Anda tersebut. Sang kurir bisa menyampaikan niat Anda lewat sindiran atau cara-cara yang sopan. Siapa tahu, Yang Kuasa membuka hatinya, membuat dia bersedia menjadi pendamping hidup Anda.
3. Orang yang pernah Anda tolak
Kasus ini mirip dengan kasus pertama. Tapi orang ini lebih ekstrem lagi. Dia pernah terang-terangan menyatakan perasaannya pada Anda, tapi dengan berat (atau ringan?) Anda menolaknya.
”Kalau saya terima, apa bukan menjilat ludah kembali namanya?“ Kenapa harus malu. Jika dia sudah berubah, lebih baik dari yang dulu, kenapa tidak menyegerakan niat untuk bersatu dengannya.
Kalau dulu Anda melihat dari satu sisi, sekarang cobalah melhat dari banyak sisi. Di sanalah akan tersingkap kelebihan-kelebihannya yang tersembunyi. Bila tidak, pinjamlah mata orang lain untuk melihatnya. Mudah-mudahan Anda bisa menilai lebih objektif.
Setelah Anda telusuri, banyak peluang jodoh yang masih tercecer bukan? Jadi kenapa susah-susah cari sana-sini. Jika tak ada peluang untuk berpasangan dengan orang-orang di masa lalu itu, barulah Anda mencari atau minta dicarikan calon dari lingkup yang jauh. Wallahu ’Alam
Sumber: Ustad Cinta
Cinta Manajemen : 08129619741, 02168482227
Ustadzcinta_manajemen@yahoo.com